rss
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

Polemik Dalam Islam di Indonesia (Manunggaling Kawula Gusti)

Syekh Siti Jenar

Manunggaling Kawula Gusti
Dalam ajarannya ini, pendukungnya berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Arti dari Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan bercampurnya Tuhan dengan makhluk-Nya, melainkan bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk dan dengan kembali kepada Tuhannya, manusia telah bersatu dengan Tuhannya.
Dalam ajarannya pula, Manunggaling Kawula Gusti bermakna bahwa di dalam diri manusia terdapat roh yang berasal dari roh Tuhan sesuai dengan ayat Al-Quran yang menerangkan tentang penciptaan manusia:
“ Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh-Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya." Q.S. Shaad: 71-72
Dengan demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala penyembahan terhadap Tuhan terjadi. Perbedaan penafsiran ayat Al-Qur’an dari para murid Syekh Siti inilah yang menimbulkan polemik bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam ruh Tuhan, yaitu polemik paham Manunggaling Kawula Gusti.

Kata roh-Ku yang ditafsirkan berbeda inilah yang jadi pertentangan dengan para wali songo. Hadis Qudsyi >"Aku tergantung prasangka hambaKu terhadapku". yg mnjdi acuan pngikut syekh siti jenar
  • Tafsir 1 : roh-Ku > berarti kepunyaanKu kita adalah kepunyaan Allah Swt. seperti halnya kita memegang sebuah balpoint dan berkata "ini pulpenku !" atau "pulpen butanku" apakah pulpen itu sama dengan kita ? tentu berbeda ! kita dengan tuhan itu jelas berbeda.
  • Tafsir 2 : roh-Ku > diartikan dalam diri kita itu ada roh Allah berarti kita sama dengan pencipta kita inilah yang disalah arti pengikut Syekh Siti Jenar dan menimbulkan pertentangan
Banyak sekali cerita yang simpang siur mengenai Syekh Siti Jenar bahkan ada sebagian yang berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar hanyalah tokoh imajiner yang dibuat para ulama untuk menanggulangi masyarakat Jawa yang menyimpang karena masih kentalnya ajaran hindu/budha  dimasyarakat tersebut. 

0 comments:

Post a Comment