Ketika kita menjumpai seorang mukmin yang shalat nya atau ibadahnya berbeda(Mis. Setiap shalat fardhu ditambahi do'a qunut) Kebanyakan orang akan menuduh wah itu mah sesat! Wah itu mah Muhammadiyah! Wah itu mah Persis! Dan sebagainya, tanpa tahu dalil dan asal usulnya. Kadangkala perbedaan penafsiran dianggap sesat, seperti ulama ini dianggap sesat karena mewajibkan syahadat untuk Islam Kauni(keturunan) tanpa kita mengecek dulu kebenaran nya, Naudzubillah Min dzalik.
Padahal dari jaman sahabat perbedaan pandangan sudah lumrah sebagai contoh, Pada saat perang khandaq, Rasulullah memerintahkan kepada Muadzin untuk berseru kepada kaum muslimin : "Man Kaana saami'an mutii'an falaa yusholiyannaa asro'illa bibanii furoodhoh"
Artinya : "Siapa saja yang mendengar dan taat, jangan shalat ashar kecuali di (kampung) Bani Quraidhah"
Para sahabat pun berbeda-beda memahami seruan ini. Sebagian meninggalkan shalat ashar di perjalanan sebelum waktu ashar berakhir dan tidak melakukan sampai mereka tiba di Bani Quraidhah. Sebagian lain memahami, bahwa yang dimaksud adalah agar mereka shalat ashar setibanya diperkampungan Bani Quraidhah meskipun waktu shalat ashar sudah lewat. Lalu kedua hal ini disampaikan kepada Rasulullah Saw dan beliau menetapkan bahwa kedua pemahaman tersebut dapat DITERIMA.
Para sahabat telah berikhtilaf serta memahami Al Qur'an dan hadist. Pendapat mereka berbeda dengan yang lain nya termasuk madzab dari para fuqaha dan itu tak bisa dikatakan sesat. Sesat itu jika kau tak beriman pada Allah Swt dan Rasulullah Saw jika hanya berbeda pemahaman isi Al Qur'an dan Hadist masih belum bisa dikatakan sesat jika kita tak tahu asal usulnya.
Apalagi jika kita mengatakan sesat pada ulama, mendapat panggilan ulama itu tidak sembarangan, mendapat sebutan ulama karena ketinggian ilmunya maka tak pantaslah ulama disebut sesat.
Rasulullah Saw sendiri tak pernah menganggap bahwa semua hal harus berdasarkan keputusan nya, beliau bersabda "Sesungguhnya aku mempunyai dua penasehat langit yaitu Mikail dan Jibril. Dan dua penasehat di bumi yaitu Abu Bakar dan Umar."
Ini membuktikan bahwa kita tak bisa egois hanya menganggap pandangan kita yang paling benar, Imam Syafi'i berkata "Jika madzab ku tak sesuai dengan sunah Rasulullah Saw maka sebutkan sunah itu padaku dan turutilah sunah itu."
Sebagai seorang mukmin pun kita harus bersabar kepada mereka yang tidak tahu ilmu nya tapi banyak bicara, "Dan apabila mereka melihat (orang-orang Mukmin) mereka mengatakan 'Sesungguhnya mereka benar-benar orang sesat(mukmin)" [Qs. 83 : 32]
Janganlah kita sama seperti orang kafir yang menganggap kita sesat dan menertawakan tapi pada hanya disisi Allah Swt lah kebenaran itu berada. ALLAHU ALAM BISSAWAB....







0 comments:
Post a Comment